Dalam komunikasi antar budaya tidak ada hal yang benar ataupun salah, sejauh hal-hal tersebut berkaitan dengan kepercayaan. Berbicara komunikasi tentunya banyak pengertian yang akan mudah ditemukan. Meskipun bermacam-macam definisi komunikasi, namun arti atau inti dari definisi tetap sama. Pada hakikatnya komunikasi adalah proses pernyataan manusia, yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Adapun komunikasi antarbudaya merupakan proses komunikasi yang dilatarbelakangi budaya yang berbeda, yang keberhasilan proses komunikasi tentu saja tidak bisa lepas dari unsur unsur komunikasi antarbudaya. Seperti halnya proses komunikasi yang mempunyai unsur-unsur dalam komunikasi.
Dakwah pada umumnya yaitu penyampaian pesan dari da‟i kepada mad‟u dengan menggunakan berbagai macam media dan metode agar tercapai tujuan dakwah. Akan tetapi, yang membedakan pembahasan dakwah disini, dakwah yang berasal dari latar belakang yang berbeda misalnya perbedaan budaya antara da‟i dan mad‟u. Dakwah ini disebut dengan dakwah lintas budaya. Dakwah lintas budaya merupakan sebuah proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antara da‟i dan mad‟u. 37 Dalam dakwah lintas budaya, keragaman merupakan tantangan bagi da‟i supaya mampu meramu pesan-pesan dakwah yang lebih bijaksana dengan mempertimbangkan kondisi positif budaya mad‟u termasuk memperhatikan media dan metode yang dianggap bisa mendekatkan antara da‟i dan mad‟u.
Nilai-nilai dalam suatu budaya menampakkan diri dalam perilaku para anggota budaya yang dituntut oleh budaya tersebut, komunikasi dan budaya sangat memiliki keterkaitan yang erat, di mana salah satu fungsi yang penting dalam komunikasi adalah transmisi budaya, ia tidak dapat terelakkan dan akan selalu hadir dalam berbagai bentuk komunikasi yang mempunyai dampak pada penerimaan individu. Dasar ayat dalam dakwah antar budaya bisa diambil dalam Al Qur‟an surat Al-Hujurat ayat 13, yang menjelaskan bahwa Allah SWT tidak membedakan antara umat yang satu dengan yang lain. Pada hakikatnya semua umat ciptaan-Nya sama, yang membedakan hanyalah keimanan dan ketaqwaan pada Allah SWT. Dari ayat tersebut seorang da'i bisa mengambil pelajaran, ketika berdakwah hendaknya tidak melihat mad'u dari harkat, martabat maupun sosial budaya.
Sebenarnya hal yang membedakan antara komunikasi dan dakwah terletak pada unsur pesannya (message), karena dakwah adalah merupakan proses untuk melakukan amar ma‟ruf nahi munkar yang bersandarkan ajaran-ajaran Islam yaitu Al-Qur‟an dan al Hadits Nabi, sementara komunikasi unsur pesannya bersifat umum. Sementara menurut Toto Tasmara yang membedakan antara dakwah dan komunikasi terletak pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Tujuan dari komunikasi mengharapkan adanya partisipasi dari komunikan atas idea-idea atau pesan-pesan yang disampaikan dari komunikator, sehingga dengan pesan yang disampaikan tersebut terjadilah perubahan dan tingkah laku yang diharapkan. Sedangkan dakwah, ciri yang membedakannya cara pendekatan menggunakan persuasif dan tujuannya yaitu mengaharapkan perubahan sikap dan tingkah laku sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Atas dasar ini maka dapat disimpulkan bahwa dakwah itu merupakan suatu proses komunikasi yang khas, yang dapat dibedakan dari bentuk komunikasi lainnya. Lebih tepatnya, dakwah merupakan komunikasi Islam yaitu komunikasi yang bersandarkan pada ajaran Islam. Melalui dakwah lintas budaya menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima di semua lapisan masyarakat, meskipun berbeda sosio-kultural, maupun norma. Metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama, menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat majemuk. Untuk mencapai semua itu, seorang da‟i harus mempunyai planning atau rencana yang disebut dengan strategi. Strategi dalam dakwah lintas budaya harus dirancang dengan matang sehingga tujuan dakwah bisa tercapai.

Komentar
Posting Komentar